|
(Epochtimes.co.id)
OSLO – Menurut sebuah sensus kelautan yang memetakan samudera mulai dari mikroba hingga ikan paus, mengatakan begitu banyak gurita berkembang biak dari nenek moyang gurita yang umumnya hidup di Antartika lebih dari 30 juta tahun yang lalu.
Peneliti dari 82 negara, dengan lama studi 10 tahun, bertujuan untuk membantu melindungi kehidupan di laut. Mereka menemukan suatu tempat pertemuan misterius bagi hiu-hiu putih di timur Samudera Pasifik dan ganggang yang tumbuh subur pada suhu minus 25 derajat Celsius di Kutub Utara.
“Kami akan mendapatkan foto-foto dari samudera… dari mikroba hingga ikan paus,” kata Ron O’Dor, wakil ilmuwan senior dari sensus penemuan 2007-2008 oleh lebih dari 2.000 ilmuwan.
Sebuah pernyataan mengatakan bahwa sensus seharga 650 juta USD ini akan selesai pada 2010. Mereka telah mendata hingga 230 ribu spesies laut yang diketahui. Mereka juga telah mengidentifikasi sebanyak 5.300 kemungkinan spesies baru dari segala macam ikan dan batu karang. Sejauh ini, sebanyak 110 spesies telah ditetapkan sebagai jenis yang baru.
Di antara penemuan itu, bukti genetik menunjukkan bahwa tentakel keluarga gurita berhubungan dengan nenek moyangnya di Antartika, yang juga merupakan tempat nenek moyang bagi berbagai jenis spesies laut dalam. Seekor gurita modern disebut adelioledone yang nampaknya berhubungan dekat dengan jenis di Antartika.
Sebuah laporan mengungkapkan bahwa gurita nampaknya menyebar ke seluruh dunia setelah Antartika menjadi tertutup dengan lempengan besar es pada lebih dari 30 juta tahun yang lalu. Ini merupakan suatu pergeseran yang membantu terciptanya arus samudera kaya oksigen yang mengalir ke utara.
“Terisolasi dalam kondisi habitat yang baru, banyak spesies berbeda berkembang biak; contohnya beberapa gurita kehilangan kantung tinta pertahanan mereka yang tak berfungsi pada kedalaman yang gelap,” menurut sensus tersebut.
Kafe Hiu
Penemuan lainnya menunjukkan bahwa hiu-hiu putih rela menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk menghabiskan waktu selama enam bulan di tempat yang oleh para peneliti disebut sebagai “Kafe Hiu Putih” di lautan antara Hawaii dan California.
“Selama masa ini, baik jantan dan betina akan melakukan penyelaman yang sering dan berulang-ulang pada kedalaman 300 meter,” katanya. Para peneliti mengatakan tujuannya tidak diketahui namun kemungkinan berkaitan dengan makanan atau reproduksi.
Pemetaan samudera membantu para peneliti untuk membuat rencana bagaimana cara melindungi kehidupan laut dari berbagai ancaman, seperti pencarian ikan, polusi dan perubahan iklim. Sensus tersebut dapat mengidentifikasi wilayah-wilayah yang perlu dikonservasi, atau untuk membantu merumuskan peraturan bagi penambangan dasar laut.
Hal ekstrem lainnya, para ilmuwan juga menemukan ganggang yang tumbuh subur di perairan bersuhu minus 25 derajat Celsius di Kutub Utara, yang terhindar dari pembekuan karena konsentrasi garam enam kali lebih banyak dibanding air laut normal.
Dan di pertengahan Atlantik, para peneliti menemukan anemon, cacing dan udang di sekitar lubang vulkanik panas aktif sedalam 4.100 meter yang juga dikenal sebagai lubang terdalam di dunia.
Penemuan lainnya adalah ubur-ubur sisir (predatory comb Jelly) yang hidup di dasar laut sedalam 7.217 meter dekat Jepang. “Ini ditemukan pada kedalaman yang tak terpikirkan untuk mendukung predator seperti ini,” kata sebuah pernyataan.
Penemuan banyak spesies baru ini bukanlah suatu pertanda bahwa samudera-samudera itu lebih sehat dari yang dibayangkan.
Dia juga menambahkan bahwa orang-orang telah menangkap spesies yang besar dan menarik.

Sebuah foto yang di-ambil pada 21 Desember 2006 menunjukkan seekor pycnogonid (suatu jenis laba-laba laut) Antartika jantan sedang membawa telurnya. Kerabat jauh dari laba-laba laut, ditemukan pada wilayah Larsen A, Semenanjung Antartika, selama ekspedisi Polarstern ANTXXIII-8. (CEDRIC d’UDEKEM d’ACOZ/AFP/GETTY IMAGES)
Meskipun demikian, 95 persen samudera di dunia belum tereksplorasi. Ian Poiner, ketua komisi pengendalian sensus mengatakan, “Sensus akan menyatukan apa yang umat manusia ketahui tentang samudera, apa yang kami tidak tahu, dan apa yang banyak belum kami ketahui.” (Ba9oez)







